Sponsors Link

8 Jenis Sistem Hidroponik Yang Perlu Diketahui

Sponsors Link

Hampir sebagian besar usaha budidaya tanaman dilakukan pada sebidang tanah atau menggunakan media tanah sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Akan tetapi seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, budidaya tanaman tidak hanya dilakukan dengan media tanah, kini juga bisa dilakukan dengan media air.

Menanam dengan media air ini lebih dikenal dengan istilah hidroponik. Kata hidroponik sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni “hidros” yang berarti air dan “ponos” yaitu mengerjakan. Sehingga hidroponik memiliki arti budidaya tanaman menggunakan air.

Bahkan menurut sejarah, hidroponik telah ada sejak tahun 1627 yakni pada sebuah tulisan karya Francis Bacon tentang hidroponik. Dia menjelaskan jika tanaman juga dapat ditanam menggunakan media selain tanah yakni air.

Pada tahun 1699 dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hidroponik oleh John Woodward. Ditemukan hasil jika tanaman yang ditanam dengan cara hidroponik, lebih baik menggunakan air keruh dibandingkan dengan air jernih.

Dari sinilah mulai dikembangkan tentang bagaimana cara membuat larutan nutrisi untuk hidroponik yang tentunya sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

Penelitian mengenai hidroponik ini terus mengalami perkembangan dan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980 yang saat itu diperkenalkan oleh Bob Sadino. Pada mulanya cara menanam menggunaan air dianggap unik dan dijadikan hobi oleh para pecinta tanaman hias.

Namun saat ini hidroponik menjadi alternatif cara menanam tanaman di lahan sempit terutama di kawasan perkotaan. Tidak hanya di perkotaan saja, bahkan banyak petani modern yang menggunakan teknik hidroponik sebagai salah satu cara usaha budidaya tanaman khususnya sayuran.

Tenyata ada beragam teknik atau sistem hidroponik yang bisa dilakukan oleh para pecinta tanaman yang ingin mencoba melakukan hidroponik. Berikut jenis-jenis sistem hidroponik yang perlu diketahui.

1. Sistem FHS

Sistem ini juga lebih dikenal dengan istilah floating raft system atau sistem rakit apung. Sistem rakit apung dianggap lebih mudah sehingga tidak sedikit orang menggunakan teknik ini untuk melakukan hidroponik.

Pada sistem ini akar tanaman akan direndam ke dalam larutan nutrisi yang tentunya telah diberi oksigen dari pompa udara akuarium. Sebaiknya tutup wadah air agar tidak terkena sinar matahari sehingga pertumbuhan alga di air dapat dicegah.

Selain mudah dibuat, sistem ini terbilang murah dan tidak membutuhkan pompa untuk memberi nutrisi kecuali aerasi. Apabila menggunakan pompa untuk nutrisi, akan terjadi penyumbatan pada pompa terutama jika menggunakan nutrisi organik.

2. Sistem Drip (Tetes)

Sistem drip atau tetes merupakan cara budidaya tanaman hidroponik dengan melakukan pengairan (irigasi) tetes untuk mengalirkan nutrisi ke bagian perakaran menggunakan dripper yang telah diatur waktunya.

Untuk menggunakan sistem ini digunakan media berupa batu apung, sekam akar, zeolit, dan sabut kelapa yang berfungsi sebagai tempat berkembangnya akar dan juga memperkokoh kedudukan tanaman.

Sistem drip dianggap lebih hemat biaya karena pemberian pupuk dapat dikurangi dengan melakukannya bersamaan dengan proses penyiraman. Pada dasarnya prinsip kerja sistem drip yakni dengan mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang dilakukan secara terus menerus sesuai takaran yang telah ditentukan.

3. Sistem Wick

Pada sistem ini memanfaatkan prinsip kapilaritas dengan menggunakan suatu bahan seperti kain atau sumbu untuk menghubungkan antara larutan nutrisi dan bagian akar tanaman. Nantinya akar tanaman tidak langsung menyentuh larutan nutrisi dan tetap dapat tumbuh pada media tanam.

Sistem wick perlu mendapatkan perhatian secara berkala. Hal ini dikarenakan larutan nutrisi yang tersedia dapat habis sehingga perlu melakukan pengisian ulang.

Meskipun terlihat sederhana dan mudah untuk dibuat, ternyata sistem ini juga memiliki kekurangan yakni lumut dapat dengan mudah tumbuh pada larutan nutrisi apabila wadah penampungan terbuka. Namun cara tersebut dapat disiasati dengan mengecatnya menggunakan warna gelap seperti hitam atau coklat.

4. Sistem Pasang Surut (Edd and Flow)

Sistem pasang surut atau Flood and Drain bekerja dengan menggunakan pompa secara berkala untuk mengalirkan larutan nutrisi ke reservoir sampai merendam akar, untuk kemudian dialirkan kembali ke reservoir dengan interval waktu tertentu.

Pada sistem ini pompa telah diatur waktunya sedemikian rupa untuk dapat menyala dan mati pada waktu tertentu.

Ketika pompa menyala, larutan nutrisi akan mengalir untuk merendam akar tanaman. Tahap inilah yang disebut sebagai pasang. Sedangkan tahap surut terjadi terjadi ketika larutan nutrisi telah mencapai level tertentu, tepatnya ketika pompa dalam kondisi mati.

Sistem pasang surut berlangsung sekitar 15 menit dan berlangsung secepat mungkin. Ada baiknya gunakan media tanam yang mampu menahan air dengan lama saat pasang dan tidak cepat kering ketika sedang surut.

5. Sistem Film Technique (NFT)

Dapat dikatakan dengan sistem NFT akar tanaman memperoleh larutan nutrisi secara terus menerus menggunakan pipa PVC dan pompa dengan teknik sikulasi. Di sini tumbuhan diatur sedemikian rupa agar sebagian akar tanaman terendam oleh larutan nutrisi sedangkan bagian akar lainnya tetap memperoleh oksigen.

Sistem NFT banyak diterapkan untuk usaha tani skala besar karena tanaman yang ditanam dapat tumbuh dengan cepat dan dapat dipanen dalam waktu singkat. Jenis tanaman yang sering digunakan yakni jenis sayuran hijau (selada, sawi, pakcoy, dan bayam), tomat, dan lainnya.

Meskipun begitu sisten NFT harus memperoleh perhatian lebih. Karena menggunakan sistem sirkulasi, besar kemungkinan resiko tersebarnya penyakit antara satu tanaman ke tanaman lainnya.

6. Sistem Bubbleponics (Gelembung)

Sistem hidroponik ini juga dapat disebut sebagai Deep Water Culture yakni dengan menumbuhkan tanaman secara mengambang di atas larutan nutrisi. Dalam hal ini tanaman ditahan pada sebuah jaring dengan posisi akar berada di dalam air.

Nantinya larutan nutrisi diisi oleh gelembung-gelembung oksigen yang berasal dari pompa. Gelembung oksigen inilah yang memberikan manfaat pada akar tanaman agar dapat tumbuh dengan baik.

Ketika akar tanaman baru tumbuh, larutan nutrisi harus dipompakan terlebih dahulu menggunakan pembentuk gelembung untu meningkatkan kandungan oksigen. Inilah yang dinamakan sebagai sistem bubbleponics.

Dengan begitu pertumbuhan akar tanaman menjadi baik yang tentunya berpengaruh pada pertumbuhan tanaman nantinya.

7. Sistem Aquaponik

Aquaponik sendiri merupakan cara budidaya tanaman dan ikan secara bersama=sama dalam sebuah tempat. Sistem aquaponik sendiri menggunakan sistem semi-tertutup.

Metode aquaponik sangat mendukung usaha pertanian berkelanjutan dan terintegrasi antara hidroponik dengan aquakultur. Jadi tidak hanya menghasilkan tanaman yang dapat dikonsumsi saja, namun juga ikan hasil budidaya.

Meskipun demikian, ternyata sistem aquaponik sendiri membutuhkan perawatan ekstra sebab harus memperhatikan tanaman dan ikan secara bersamaan.

8. Sistem Aeroponik

Sistem aeroponik merupakan sistem hidroponik yang membutuhkan oksigenasi tinggi. Dalam prosesnya, sistem aeroponik menggunakan kabut halus untuk menghasilkan banyak energi.

Tidak heran jika sistem aeroponik banyak dilakukan oleh mahasiswa pertanian dan balai penelitian untuk dipelajari. Sistem ini juga tidak menggunakan media tanah, karena sangat mengandalkan air dan nutrisi yang terserap oleh akar tanaman yang menggantung.

Sponsors Link
,
Oleh :
Kategori : Biologi