Sponsors Link

5 Macam-Macam Skala Gempa Bumi Beserta Penjelasannya

Sponsors Link

Gempa bumi merupakan salah satu jenis bencana alam yang sering dialami pada wilayah yang berada di atas pertemuan lempengan bumi, dekat dengan gunung berapi dan lainnya. Besarnya gempa bumi dapat diketahui dengan menggunakan skala khusus yang diperuntukkan untuk gempa bumi.

Ada beragam jenis skala gempa bumi yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya gempa bumi pada suatu wilayah. Dan berikut daftar skala gempa bumi yang perlu diketahui!

1. Skala Omori

Skala Omori diciptakan oleh seorang seismologi asal Jepang, Fusakichi Omori. Skala ini dibuat dengan membaginya menjadi 7 tingkat dari tingkat terlemah yakni skala 1 sampai dengan terkuat (skala 7).

Penentuan skala Omori berdasarkan pada gempa bumi terhadap kerusakan yang ditimbulkan pada bangunan dan juga korban manusia. Berikut skala kekuatan gempa bumi berdasarkan skala Omori yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia:

  1. Derajat I : Getaran lunak dirasakan oleh banyak orang akan tetapi tidak semua orang.
  2. Derajat II : Getaran yang dirasa terasa sedang, semua orang terbangun karena bunyi barang pecah, pintu dan jendela berbunyi.
  3. Derajat III : Getaran agak kuat, jam dinding berhenti, jendela dan pintu terbuka.
  4. Derajat IV : Getaran kuat, muncul retakan pada dinding, gambar yang digantung pada dinding jatuh.
  5. Derajat V : Getaran sangat kuat, atap dan dinding rumah runtuh.
  6. Derajat VI : Rumah yang kuat runtuh.
  7. Derajat VII : Kerusakan umum.

2. Skala Mercalli

Skala Mercalli atau bisa juga disebut sebagai Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) merupakan skala yang diciptakan oleh ahli vulkanologis dari bangsa Italia yakni Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan yang berdasarkan pada informasi orang-orang selamat dari bencana gempa bumi serta melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi.

Skala ini dinilai sangat subjektif dan kurang tepat jika dibandingkan dengan perhitungan gempa bumi lainnya. Seiring berjalannya waktu skala Mercalli telah dimodifikasi oleh dua orang ahli seismologi, Harry Wood dan Frank Neumann pada tahun 1931.

Skala Mercalli masih cukup sering digunakan apabila tidak terdapat peralatan seismometer untuk mengukur besarnya kekuatan gempa bumi pada tempat kejadian. Berikut pembagian skala Mercalli:

  1. I MMI : Getaran tidak dirasakan kecuali saat kondisi luar biasa untuk beberapa orang.
  2. II MMI : Getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang saja, benda-benda ringan yang digantung terlihat bergoyang.
  3. III MMI : Getaran dapat dirasakan nyata di dalam rumah. Terasa seolah-olah ada truk yang berjalan.
  4. IV MMI : Pada siang hari dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah, hanya beberapa orang di luar rumah, gerabah pecah, pintu atau jendela berderik dan dinding berbunyi.
  5. V MMI : Getaran dapat dirasakan oleh hampir semua orang, banyak orang terbangun, gerabah pecah, banyak barang terpelanting, tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandol lonceng berhenti.
  6. VI MMI : Getaran diraskan oleh semua orang. Mayoritas terkejut dan lari keluar ruangan, lapisan dinding jatuh dan cerobong asap pabrik rusak, terjadi kerusakan kecil.
  7. VII MMI : Tiap orang keluar rumah, terjadi kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi baik, sedangkan untuk rumah dengan konstruksi buruk terjadi retakan hingga hancur. Cerobong asap rusak dan pecah, dapat dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan.
  8. VIII MMI : Terjadi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat, muncul ratakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat terlepas dari rangka bangunan, cerobong asap pabrik dan monument roboh, air menjadi keruh.
  9. IX MMI : Terjadi kerusakan pada bangunan kuat, banyak rangka bangunan tidak lurus, banyak ratak, rumah terlihat agak berpindah dari fondasinya, pipa di dalam rumah terputus.
  10. X MMI : Bangunan yang terbuat dari kayu yang kuat mengalami kerusakan, rangka rumah terlepas dari fondasi, tanah terbelah, rel kereta api melengkung, tanah longsor di tepian sungai dan tanah yang curam.
  11. XI MMI : Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri, jembatan rusak, muncul lembah, pipa dalam tanah tidak dapat digunakan sama sekali, tanah terbelah, rel kereta melengkung.
  12. XII MMI : Hancur sama sekali, muncul gelombang pada permukaan tanah, pemandangan menjadi gelap, banyak benda terlempar ke udara.

3. Skala Cancani

Skala Cancani merupakan skala gempa bumi berdasarkan pada percepatan. Berikut tingkatan gempa bumi berdasrkan pada skala Cancani:

  1. Skala I : Percepatan 0-2,5 mm/detik
  2. Skala II : Percepatan 2,5-5 mm/detik
  3. Skala III : Percepatan 5-10 mm/detik
  4. Skala IV : Percepatan 10-25 mm/detik
  5. Skala V : Percepatan 25-50 mm/detik
  6. Skala VI : Percepatan 50-100 mm/detik
  7. Skala VII : Percepatan 100-250 mm/detik
  8. Skala VIII : Percepatan 250-500 mm/detik
  9. Skala IX : Percepatan 500-1.000 mm/detik
  10. Skala X : Percepatan 1.000-2.500 mm/detik
  11. Skala XI : Percepatan 2.500-5.000 mm/detik
  12. Skala XII : Percepatan 5.000-10.000 mm/detik

4. Skala DeRossi-Forel

Skala DeRossi-Forel merupakan skala untuk mengklasifikasi gempa bumi berdasarkan intensitas. Skala ini diciptakan oleh Michele Stefano de Rossi dan Francois Alphonse Forel. Skala DeRossi-Forel termasuk skala tertua dan masih digunakan di negara Swiss hingga saat ini.

Berikut derajat keparahan gempa bumi berdasarkan skala DeRossi-Forel:

  1. I : Hanya dapat dirasakan oleh seorang pengamat terlatih, terdeteksi dengan menggunakan seismograf.
  2. II : Gempa dirasakan oleh beberapa orang yang tenang.
  3. III : Hanya beberapa orang yang tidak terlalu tenang merasakan gempa.
  4. IV : Orang yang sedang beraktivitas dan pekerja dapat merasakan gempa. Pintu, jendela, lantai kayu bersuara, banyak benda mudah bergerak akibat guncangan.
  5. V : Banyak yang merasakan gempa. Benda ukuran besar berguncang.
  6. VI : Orang terbangun. Lampu, tanaman, pohon dan semak bergoyang. Banyak orang lari ketakutan dari rumah.
  7. VII : Banyak orang ketakutan, lonceng besar seperti lonceng pada gereja berdenting, namun tidak ada kerusakan pada struktur bangunan.
  8. VIII : Terjadi kerusakan bangunan seperti retakan pada dinding, cerobong asap terjatuh.
  9. IX : Struktural kerusakan atau hancur total pada bangunan.
  10. X : Terjadi perubahan permukaan bumi.

5. Skala Richter

Skala Richter diciptakan oleh Charles Richter berdasarkan pada pengukuran gelombang seismik. Skala Richter dapat disingkat dengan SR dapat didefinisikan sebagai bentuk logaritma dari amplitude maksimum yang diukur menggunakan satuan micrometer oleh seismograf pada jarak 100 km dari pusat gempa.

Skala Richter menjadi skala gempa bumi yang pernah digunakan oleh Indonesia. Berikut tingkatan gempa bumi berdasarkan skala Richter:

  1. 1 SR : Gempa tidak terasa, kecuali pada orang-orang yang berada dikondisi luar biasa, hanya terekam oleh seismograf.
  2. 2-3 SR : Dapat dirasakan oleh beberapa orang dalam kondisi diam di dalam rumah, dapat diperkirakan durasi gempa ketika berlangsung.
  3. 4 SR : Dapat membangunkan orang yang sedang tertidur, menggetarkan pintu, jendela, dan benda-benda lainnya.
  4. 5 SR : Dapat dirasakan semua orang, bandul jam berhenti, piring dan kaca jendela pecah.
  5. 6-7 SR : Gerobak rusak, perabot rumah tangga bergeser, orang-orang harus evakuasi keluar bangunan. Dapat dirasakan dalam kondisi di dalam kendaraan yang bergerak. Bangunan rusak.
  6. 8-9 SR : Getaran gempa menyebabkan pasir dan lumpur terlempar, kondisi menjadi panik, kerusakan pada bangunan modern. Pipa dalam tanah pecah, tanah retak, fondasi rumah bergerak.
  7. 10 SR : Terjadi kepanikan, bangunan rusak parah, jembatan roboh, hanya bangunan struktur kuat yang bertahan.
  8. 11 SR : Panik pada manusia, muncul celah besar pada tanah, semua bangunan runtuh.
  9. 12 SR : Semua orang panik, kerusakan total, percepatan gerak tanah melebihi percepatan gravitasi, gelombang dapat terlihat di permukaan tanah.
Sponsors Link
, ,
Oleh :
Kategori : Geografi