Sponsors Link

Fase Menstruasi dan Cara Menghitungnya

Sponsors Link

Menstruasi atau haid merupakan ciri primer seorang wanita sudah mengalami kematangan secara seksual. Tubuhnya sudah memproduksi sel telur untuk mengalami pembuahan, meski sampai usia tertentu organ reproduksi belum seluruhnya siap.

ads

Ketika seorang wanita sudah menstruasi maka dia akan mengalaminya setiap bulan sekali sesuai fase tertentu hingga menopause tiba. Oleh karena itu, wanita secara karakter, mood, fisik, dan emosionalnya sering berubah. Fase menstruasi mempengaruhi. Jika wanita ingin dapat lebih mengatur fisik dan emosionalnya, dia harus mengenali fase menstruasi tersebut. Artikel kali ini kita akan mempelajari hormon yang mempengaruhi menstruasi, fase menstruasi, dan cara menghitungnya.

Hormon yang Mempengaruhi Menstruasi

Sama dengan berfungsinya seluruh tubuh manusia, saat menstruasi ada hormon yang bekerja. Hormon ini dihasilkan oleh hypothalamus otak.
Hormon yang mempengaruhi menstruasi, yaitu:

  • Hormon Estrogen

Hormon estrogen merupakan hormon yang berperan dalam perubahan bentuk tubuh wanita saat mengalami pubertas atau menstruasi pertama kali. Hormon ini juga mempunyai fungsi penting dalam masa kesuburan wanita. Estrogen membangun kembali lapisan rahim yang meluruh saat sel telur tidak dibuahi.

  • Hormon Progesteron

Hormon progesteron bekerjasama dengan estrogen dalam siklus reproduksi. Kedua hormon menjaga siklus reproduksi atau evolusi tetap terjadi. Jika wanita hamil, hormon menjaga kehamilan. Pada fase menstruasi, progesteron ikut menebalkan dinding rahim yang dibangun oleh estrogen.

  • Hormon Pelepas Gonadotropin (Gonadotrophine releasing hormone – GnRh)

Hormon pelepas gonadotrophine diproduksi oleh otak. Sesuai dengan namanya, hormon ini dilepaskan untuk merangsang pembentukan hormon plutein dan hormon folikel yang berguna saat fase menstruasi.

  • Hormon Pelutein atau Luteinizing Hormone atau LH

Nama hormon ini sulit disebut sehingga kita sering menyebutnya dengan singkatan saja, yaitu hormon LH. Hormon LH peranannya secara tidak langsung dalam rahim. Berkat LH, ovarium dapat terangsang untuk memproduksi sel telur dan mengalami pembuahan atau ovulasi.

  • Hormone Perangsang Folikel atau Folllicle Stimulating Hormone atau FSH

Hormon FSH diproduksi oleh kelenjar piituitari di otak bagian bawah. Hormon ini mempunyai tugas membantu sel telur agar matang dan siap untuk dibuahi.

Fase Menstruasi

Sebutan fase menstruasi sebenarnya mencakup fase kehidupan reproduksi wanita selama sebulan penuh. Dari hari pertama menstruasi hingga selesai dan menstruasi kembali. Setiap fase mempunyai ciri khas yang dapat dirasakan wanita secara fisik dan emosi. Fase tersebut dibagi menjadi empat dan akan kita bahas secara singkat di bawah ini.

  • Fase Menstruasi/Fase Pendarahan

Fase pendarahan adalah fase yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai saat haid atau mens. Waktu fase ini biasanya 1 sampai 5 hari. Beberapa orang ada yang mengalaminya sampai 7 hari dan 14 hari. Menstruasi terjadi di mana lapisan dinding rahim mengalami peluruhan. Hormon progesteron yang seharusnya menjaga ketebalan dinding rahim menurun jumlahnya. Pendarahan dialami sekitar 10 ml sampai 80 ml. Akibat peluruhan dinding rahim, wanita sering merasakan keram perut di bagian bawah. Selain itu, pendarahan menyebabkan wanita merasa lebih lemas dari biasa. Saat ini sebaiknya wanita lebih banyak konsumsi makanan bergizi dan beraktivitas ringan.


  • Fase Follikular

Fase ini dimulai ketika wanita masih mengalami fase pendarahan. Umumnya terjadi pada hari pertama sampai 13, jika menstruasi normal hingga 7 hari. Wanita yang mengalami fase pendarahan lebih lama akan mengalami fase ini juga lebih lama.

Pada fase ini kelenjar pituitary yang dihasilkan oleh hipofissi otak melepaskan FSH. Hormon ini membuat folikel dalam ovarium merangsang sel telur agar tumbuh menjadi matang. Telur dalam folikel biasanya akan matang dan siap dibuahi setelah 13 hari. Ketika sel telur sudah mulai matang, folikel mengeluarkan hormon yang merangsang rahim untuk membentuk lapisan pembuluh darah dan jaringan lunak. Lapisan dan jaringan tersebut kita kenal sebagai dinding rahim atau endometrium.

Fase Follikular sering disebut juga sebagai fase pemulihan setelah tubuh mengalami fase pendarahan. Rahim dibentuk seperti semula. Saat ini hormon estrogen dan testosteron mulai meningkat jumlahnya. Akibatnya, energi wanita, mood, dan daya pikirnya meningkat. Wanita juga perasaannya pada fase ini tidak sesensitif saat fase pertama. Nafsu makannya dapat lebih ditekan.

  • Fase Ovulasi

Fase ovulasi merupakan masa subur wanita. Pada masa ini otak memerintahkan produksi Luteinizing Hormone. Hormon yang bertugas memerintahkan folikel untuk melepaskan sel telur ke tuba falopi atau saluran rahim. Fase ovulasi umumnya terjadi pada hari keempat belas dihitung dari masa menstruasi pertama periode sebelumnya. Tuba falopi mempunyai silia fimbrae, sebuah organ yang strukturnya seperti jari-jari di ujung tuba falopi dan berupa rambut getar halus. Silia fimbrae mendorong sel telur keluar dari folikel ke tuba falopi menuju rahim untuk dibuahi.

Hormon estrogen dan testosterone masa fase ovulasi meningkat drastis dan mencapai puncaknya. Tingkat kepercayaan diri wanita masa ini juga meningkat, diiringi kemudahan verbalisasi atau menuangkan pikiran dan perasaan. Gairah seksual wanita pada masa subur atau ovulasi lebih tinggi dibandingkan saat lain. Sel telur dapat bertahan di tuba falopi selama 12 sampai 24 jam.


  • Fase Luteal

Sel telur yang tidak dibuahi oleh sperma selama 24 jam di tuba falopi akan hancur. Maka wanita memasuki fase atau tahap menstruasi yang keempat, disebut tahap luteal. Di fase luteal, rahim membentuk korpus luteum pada ovarium dari bekas folikel yang ditinggalkan sel telur. Hormon progesterone yang mempertahankan dinding rahim di fase ini menurun sampai habis. Akibatnya dinding rahim mulai luruh. Ini merupakan tahap akhir dari fase menstruasi sebelum kembali ke tahap pertama.

Di fase luteal, hormon estrogen dan testosteron menurun. Begitu pula dengan progesteron yang merupakan anti cemas alami. Akibatnya, pada masa ini wanita merasa ingin lebih banyak makan yang mengandung karbohodrat, perut kembung, sakit kepala, cemas, dan murung. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyebut fase ini sebagai tahap PMS atau pra menstruasi.

Cara Menghitung Fase Menstruasi

Berdasarkan fase atau tahapan menstruasi yang telah disebutkan di atas, berarti siklus menstruasi dapat dihitung. Hitungan ini bermanfaat bagi wanita yang ingin merencanakan kehamilan. Selain itu, perhitungan akan membuat wanita mengetahui apabila ada gangguan kesehatan organ reproduksi. Ikuti langkah-langkah ini untuk menghitung siklus menstruasi

  1. Catatlah hari pertama menstruasi bulan ini dan bulan berikutnya.
  2. Rentang waktu antara hari pertama menstruasi bulan ini sampai hari pertama bulan berikutnya disebut sebagai siklus menstruasi. Rata-rata siklus pada wanita 28 hari.
  3. Untuk wanita yang mempunyai haid tidak teratur maka, catatlah rentang waktu haid selama 6 bulan dan hitung rata-ratanya sebagai siklus menstruasi.
  4. Untuk mencatat masa subur atau kapan fase ovulasi terjadi, wanita harus mencatat siklus menstruasi selama setahun.
  5. Setelah dicatat selama setahun, siklus terpendek harus dikurangi dengan 18. Hasilnya merupakan hari pertama masa subur. Kemudian, kurangi siklus haid terpanjang dengan 11. Hasilnya merupakan hari terakhir masa subur.
  6. Jangan lupa, hitungan hari pertama masa siklus menstruasi adalah ketika pendarahan hari pertama.

Demikian artikel kali ini tentang tahapan menstruasi wanita dan cara menghitung siklusnya. Semoga bermanfaat bagi pembaca semua.

Sponsors Link
, , ,



Oleh :
Kategori : Biologi